Tantangan dan Alternatif Solusi dalam keberlanjutan Program MP3EI dalam Upaya Pembangunan Ekonomi Indonesia

Potensi sumberdaya alam (SDA) yang berlimpah serta sumberdaya manusia (SDM) yang tinggi adalah modal yang cukup untuk mampu melakukan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia. Dalam upaya pembangunan ekonomi tersebut, diperlukam suatu rencana pembangunan yang jelas agar pembangunan terarah, sesuai dengan yang diharapkan, dan menjamin kesejahteraan bangsa Indonesia.
MP3EI 2011-2025 yang telah ditetapkan dengan target menjadikan Indonesia negara maju pada tahun 2025 merupakan suatu hal yang sangat baik guna menunjang pembangunan dan perluasan ekonomi Indonesia. Namun dalam pelaksanaan MP3EI tersebut harus tetap diperhatikan tantangan dan masalah yang terjadi serta bagaimana solusi agar program MP3EI tersebut dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan.
Salah satu tantangan Indonesia adalah struktur ekonomi Indonesia saat ini masih terfokus pada pertanian dan industri yang mengekstraksi dan mengumpulkan hasil alam. Sesuai dengan karakteristik sumberdaya alam yang sifatnya terbatas dan cenderung mengarah pada kelangkaan (scarcity) apabila terus dipaksakan pemanfaatannya secara terus-menerus dalam jumlah yang besar. Memang tidak mudah untuk merubah struktur ekonomi ini dalam waktu singkat karena banyak hal yang harus dilakukan apabila Indonesia seketika harus berubah menjadi negara Industri.
Untuk mengatasi tantangan ini, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah mengembangkan keunggulan komparatif Indonesia terutama terkait sumberdaya alam yang dimiliki dengan fokus pada produksi komoditas ekonomi sesuai dengan keunggulan dan kelimpahan alam masing-masing daerah di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan agar mampu meminimalisir persaingan komoditas yang sama dalam skala regional maupun nasional. Akan lebih baik jika setiap daerah di Indonesia tetap memaksimalkan potensi lokal yang dimiliki dan tidak berorientasi untuk meniru daerah lain karena dengan tetap fokus pada potensi lokal akan tercipta kestabilan harga dan permintaan atau bahkan cenderung meningkat dan implikasinya adalah peningkatan ekonomi yang lebih cepat. Dapat diambil contoh di Gorontalo, dengan tetap fokus pada produksi jagung dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitasnya menjadikan perekonomian Gorontalo terus berkembang dengan pesat.
Industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk, proses produksi dan distribusi di dalam negeri masih terbatas merupakan tantangan lain dalam perekonomian Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran industri sangat besar dalam upaya mempercepat pembangunan ekonomi di suatu negara. Dengan pengembangan industri, Indonesia dapat mengasilkan produk-produk unggulan yang mampu bersaing baik di pasar domestik maupun internasional. Namun yang menjadi tantangan besar di negara kita adalah keterbatasan dalam meningkatkan nilai tambah, proses produksi dan distribusi. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan zoning produksi atau dengan melakukan pengelompokan industri yang dilakukan mulai dari skala regional hingga nasional. Maksud dari pengelompokan ini adalah industri yang didirikan atau dikembangkan lebih baik di daerah atau lokasi yang mampu mendukung keberlanjutan proses produksi seperti bahan baku, tenaga kerja dan teknologi yang digunakan. Hal ini juga dilakukan agar setiap produk yang dihasilkan dapat terus terjaga keberlanjutannya dan kuantitasnya di pasar stabil. Dengan cara ini akan lebih mudah untuk senantiasa meningkatkan kualitas dalam upaya peningkatan nilai tambah serta kelancaran proses distribusi.
Kesenjangan antara pembangunan di Kawasan Barat dengan Kawasan Timur yang masih terjadi sampai saat ini merupakan tantangan yang sangat penting dalam pelaksanaan program MP3EI. Hal ini dikarenakan dalam upaya pembangunan ekonomi sangat penting adanya pemerataan pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Indonesia. Secara konseptual, program MP3EI memang telah memuat seluruh rencana pembangunan ekonomi mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan Kepulauan Maluku. Hal ini sangat baik karena memang sesuai dengan visi awal MP3EI dalam pembangunan ekonomi Indonesia adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur. Pertanyaan baru yang muncul adalah apakah dalam pembangunan ekonomi yang direncanakan secara merata di seluruh Indonesia dapat langsung dilakukan selama masih ada kesenjangan seperti yang disebutkan di atas?.
Kesenjangan yang telah terjadi sejak beberapa tahun lalu memang tantangan yang cukup berat terutama dalam implementasi program MP3EI ini. Namun sebenarnya hal ini apabila dilihat dari sisi positifnya justru akan menjadi motivasi dan acuan dalam pelaksanaan program. Perlu diperhatikan bahwa meskipun target pembangunan ekonomi Indonesia sesuai MP3EI adalah tahun 2025 Indonesia menjadi negara maju, namun harus dipertimbangkan apakah target itu menggunakan ukuran peningkatan yang sama untuk setiap regional. Apabila digunakan standar yang sama akan sulit diwujudkan pemerataan pembangunannya dalam waktu yang cukup singkat ini. Hal ini berkaitan dengan sarana penunjang atau infrastruktur setiap daerah yang berbeda dan cukup signifikan antara Kawasan barat dan Kawasan Timur.
Untuk mengatasi hal ini, salah satu solusinya adalah peningkatan pembangunan ekonomi boleh saja menggunakan presentase yang sama tetapi acuan nilai awal sebelum pembangunan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah. Sebagai contoh, misalnya untuk regional Jawa, apabila target pembangunan pertumbuhan ekonomi Indonesia 6% (hanya contoh) nilai awal sebelum pembangunan yang digunakan tentunya berbeda dengan wilayah Papua dan Kepulauan Maluku. Target pertumbuhan ekonomi harus tetap 6 % tetapi acuan harus sesuai dengan tingkat ekonomi per wilayah.
Tantangan lain dari suatu negara besar seperti Indonesia adalah penyediaan infrastruktur untuk mendukung aktivitas ekonomi. Infrastruktur itu sendiri memiliki spektrum yang sangat luas. Satu hal yang harus mendapatkan perhatian utama adalah infrastruktur yang mendorong konektivitas antar wilayah sehingga dapat mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi Indonesia. Penyediaan infrastruktur yang mendorong konektivitas akan menurunkan biaya transportasi dan biaya logistik sehingga dapat meningkatkan daya saing produk, dan mempercepat gerak ekonomi. Hal diatas dikemukakan oleh Presiden Republik Indonesia dalam MP3EI 2011-2025.
Infrastruktur memang sangat penting dalam menunjang seluruh aktivitas manusia tak terkecuali dalam pembangunan ekonomi. Hal ini dikarenakan seluruh ekonomi membutuhkan infrastruktur yang memadai. Untuk mengatasi masalah ini salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan pembangunan infrastruktur yang menyesuaikan kebutuhan tiap daerah sesuai dengan kondisi geografisnya. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan pembangunan kota-kota baru di Indonesia bekerjasama dengan program kementerian perumahan rakyat serta pembanguna eco-village berbasis agropolitan. Melalui manajemen kolaboratif ini dapat dilakukan pembanguna infrastruktur yang lebih baik dan cepat dikarenakan dalam pembangunan kota-kota baru dan agropolitan akan terwujud pemerataan pembangunan karena adanya kesamaan dalam visi pembangunan suatu wilayah. Pembangunan kota baru dan agropolitan mensyaratkan suatu wilayah menyediakan infrastruktur penujang yang sangat baik dan sesuai dengan tujuan pembanguna ekonomi.
Tantangan terakhir yang sangat penting dalam menunjang program MP3EI adalah peningkatan mutu sumberdaya manusia Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi sangat membutuhkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan produktif. Dalam menghadapi tantangan ini, pendidikan merupakan salah satu penunjang peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Untuk pembangunan ekonomi dibutuhkan sumberdaya manusia yang memiliki keahlian khusus agar spesifikasi kemampuan lebih jelas. Untuk itu perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan pendidikan berbasis vokasi atau sekolah kejuruan agar lulusan yang dihasilkan terampil dan lebih produktif serta peningkatan fasilitas atau infrastruktur pendidikan.
Semua tantangan dan solusi yang dipaparkan diatas merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan program MP3EI. Namun hal yang sangat penting dalam program ini adalah ketidakjelasan berbagai perangkat hukum yang mengatur hubungan pusat dan daerah. Hal ini sangat penting karena dapat menyebabkan tumpang-tindih yang merugikan pelaku usaha dan masyarakat karena tidak terdapat kepastian hukum tentang aturannya, sehingga timbul konflik horizontal antara pelaku usaha dan masyarakat terhadap pemberian yang diberikan tanpa memperhatikan salah satu pihak. Kemungkinan terburuk yang sangat tidak diinginkan apabila hal ini terus terjadi adalah kegagalan program MP3EI

Comments

Insentif Ekonomi Karbon Hutan Rakyat : REDD + Sukses, Lingkungan Hijau, Masyarakat Sejahtera

Insentif Ekonomi Karbon Hutan Rakyat : REDD + Sukses, Lingkungan Hijau, Masyarakat Sejahtera
Randy Dwi Prasetya
Departemen Manajemen Hutan
Institut Pertanian Bogor

Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang melalui REDD+ menjadi perhatian dalam berbagai konferensi iklim internasional dalam beberapa tahun terakhir. REDD+ dipilih sebagai cara yang paling nyata, cepat, dan mennguntungkan dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Namun menciptakan atau menentukan sumber dan penyerap karbon merupakan hal yang berat. Perundingan tentang iklim dapat dilihat sebagai upaya untuk maju secara bertahap, dimana isu mitigasi selalu diusung sebagai bahan diskusi yang tentunya berkaitan dengan banyak sektor dan kegiatan. Pertanyaan kunci dari hal ini adalah : Kegiatan apa saja yang layak untuk memperoleh kredit dari REDD+?. Penyerapan karbon hutan merupakan salah satu jawabannya dan sangat sesuai dengan REDD+.

Jumlah cadangan karbon hutan dapat ditentukan oleh faktor luasan dan kepadatan karbon per hektar di hutan. Sejalan dengan fungsi itu, hal yang menarik adalah pembangunan hutan rakyat yang semakin meningkat tentunya mampu menghasilkan jasa lingkungan bagi masyarakat umum, beberapa diantaranya adalah berupa pengendalian erosi tanah, pencegahan tanah longsor, pengendalian hidro-orologi daerah tangkapan air, perlindungan habitat kehidupan liar dan penyerapan karbon dioksida (CO2) yang merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global (Garret et al, 2000; Avalapati & Nair, 2001). Stern (2006) menyatakan bahwa pembangunan hutan rakyat merupakan salah satu opsi berbiaya efektif dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Usaha hutan rakyat yang menghasilkan jasa lingkungan bentuk eksternalitas positif yang dapat dikategorikan sebagai barang publik. Hal ini dikarenakan barang publik memiliki sifat dasar dapat dikonsumsi secara gratis oleh semua orang sementara biaya produksi hanya ditanggung oleh produsen. Contoh dari teori ini adalah hutan rakyat menyerap karbon memberikan manfaat dalam memperbaiki kualitas udara sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat tidak hanya pemilik hutan rakyat namun juga masyarakat umum.
Beberapa tahun terakhir ini nilai ekonomi dari jasa lingkungan mendorong para pihak untuk melirik program pembayaran jasa lingkungan atau Payment Environmental Service (PES) kepada pihak yang bersedia melakukan praktik pemanfaatan lingkungan secara bijak seperti hutan rakyat yang juga penting dalam jasa lingkungan. Dalam konteks mitigasi perubahan iklim, memberikan insentif kepada petani dapat dilakukan dikarenakan petanu bersedia menerapkan sistem silvikultur yang baik serta menunda pemanenan kayu sesuai dengan waktu pemanenan yang ditetapkan.

Perancangan sistem pemberian insentif sebagai upaya mengkompensasi biaya atau kerugian yang telah ditanggung petani sebagai produsen jasa lingkungan karena pengorbanan demi kepentingan masyarakat umum mensyaratkan adanya informasi tentang nilai willingness to accept (WTA) petani. Nilai total WTA petani hutan rakyat selanjutnya dapat digunakan sebagai proksi dari nilai ekonomi jasa lingkungan hutan rakyat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam mengestimasi nilai ekonomi jasa lingkungan adalah contigent valuation method (CVM). Pendekatan CVM banyak digunakan untuk menghitung nilai jasa lingkungan yang tidak diperdagangkan di pasar (Irawan 2011).

Penyerapan karbon dari tegakan hutan rakyat jati misalnya dengan jumlah 100 batang per hektar apabila diberikan kompensasi sebesar Rp. 30.000/ batang/ tahun akan memberikan pendapatan dari jasa lingkungan sebesar Rp. 3.000.000.000 per ha/tahun. Dapat diperkirakan dari lahan hutan rakyat yang dikelola secara intensif dengan luasan 2-5 ha seorang petani pemilik hutan rakyat dapat memperoleh kompensasi dari pengorbanan yang dilakukan sebesar 6-15 juta rupiah per tahun. Hal ini tentunya akan mampu membuat petani tertarik untuk berpartisipasi dalam mengelola hutannya dengan baik serta melakukan pemanenan sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan.

Mekanisme pemberian insentif ini sangat berkaitan dengan skema yang diusung REDD. Keunggulan hutan rakyat dalam keterlibatan pembayaran jasa lingkungan dalam rangka mendukung program REDD adalah luas dari hutan rakyat yang fluktuatif. Luas areal hutan rakyat di Kabupaten Bogor tahun 2005 tercatat 10.791,28 ha dan pada tahun 2007 adalah 8.516,86 ha. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan pemberian insentif hutan rakyat dalam perannya menyerap karbon untuk kelestarian lingkungan dan hutan sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat mulai dari petani hutan rakyat maupun industri terkait. Dengan adanya pemberian insentif ini diharapkan hutan rakyat dapat memberikan peran nyata penerapan REDD+ di Indonesia.

Comments

tips bagi mahasiswa

10 tips sukses untuk mahasiswa
Steve pavlina adalah seorang motivator kelas dunia yang telah banyak menberikan ceramah dan pencerahan kepada jutaan orang. Selain sebagai motivator dan pembicara diberbagai seminar kelas dunia, beliau juga menulis website tentang motivasi diri dan sukses dalam kehidupan. Berikut ini 10 tips sukses yang beliau aplikasikan dalam kehidupan pribadinya sehingga beliau bisa lulus dari universitas hanya dalam 3 semester dengan 2 gelar sarjana.
1. Temukan jawaban atas pertanyaan “Mengapa saya harus pergi ke kampus?”
Banyak sekali mahasiswa yang tidak tahu dengan jelas alasan mengapa mereka harus pergi ke kampus selain karena fakta bahwa mereka tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan. Kebanyakan mereka meneruskan tujuan yang diwariskan dari keluarga atau orang-orang disekitarnya yang itu bukanlah merupakan dirinya yang sebenarnya. Seperti itulah bagaimana awalnya Steve Pavlina memulai kuliahnya. Lalu bagaimana dengan anda?
Beliau menambahkan bahwa lulus dari universitas dalam 3 semester dan dengan 2 gelar sarjana bukanlah hal yang pertama bagi beliau. Beliau telah banyak mencapai kejayaan dan kesuksesan selam di SMA. Beliau adalah siswa yang terus mendapatkan nilai A, manjadi kapten tim disekolah, dan juga ketua kelompok pelajar matematika. Yang ahirnya karena terlalu menikmati kesuksesan sehingga menjadikan beliau lalai akan belajarnya. Beliau drop out dari universitas.
Pengalaman itulah yang menjadikan beliau belajar dan memberikan semangat untuk bangkit. Ahirnya setelah merenungkan jati dirinya, beliau menemukan dirinya yang sebenarnya. Pada saat itulah beliau mulai mengembangkan ketertarikannya pada pengembangan diri (personal development) dan itu sangat memberikan pengaruh dalah kehidupan beliau selanjutnya. Satu tahun berikutnya beliau kembali masuk universitas dan memulainya sebagai mahasiswa baru. Tetapi sekarang ini beliau tahu betul alasan kenapa beliau pergi ke kampus. Beliau membuat target ingin menjadi seorang programmer dan ingin mendapatkan gelar sarjana computer science (yang kemudian beliau juga menambahkan sarjana matematika). Tidak hanya itu saja, beliau juga sadar bahwa beliau bisa melakukan lebih dari itu, dan beliau bertekat untuk memaksimalkan kemampuannya. Beliau memutuskan untuk menciptakan sebanyak-banyaknya pengalaman yang beliau bisa.
Target anda disekolah mungkin saja berbeda dengan target Steve Pavlina, karena memang anda berbeda dengan beliau. Tetapi tentunya anda bisa belajar dari pengalaman yang dimiliki Steve. Jadi ketika anda akan melakukan sesuatu (termasuk pergi ke kampus). Jawablah pertanyaan mengapa anda harus melakukan itu? Jika anda tidak tahu, dalam artian tidak tahu secara mendalam, maka anda tidak akan memiliki tujuan yang jelas terhadap apa yang anda sedang lakukan. Sehingga tentunya akan sulit bagi anda untuk mencapai sukses untuk mencapai tujuan yang tidak jelas. Jadi, mulai sekarang tanyakan pada diri anda dan carilah jawaban atas pertanyaan itu dengan sebenar-benarnya. Sehingga anda akan memiliki alasan yang kuat dan motivasi untuk mencapai tujuan yang telah anda tetapkan. Why do I go to college? What do I want to achieve?

Comments